Rabu, 21 November 2012

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan


1. Ontologi Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuan adalah selalu terdiri atasi unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal ingin diketahuinya. Jadi bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu menusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
Pengetahuan dan pikiran sangat penting. Delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pengetahuan manusia, menurut Bahm yaitu:

1.     Mengamati (observe). Pikiran berperan dalam mengamati objek-objek. Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu, maka pikiran haruslah mengandung kesadaran. Jadi, di sini pikiran merupakan suatu bentuk kesadaran.
2.     Menyelidiki (inquires). Ketertarikan pada objek dikondisikan oleh jenis-jenis objek yang tampil. Minatlah yang membimbing seseorang secara alamiah untuk terlibat ke dalam pemahaman pada objek-objek.
3.  Percaya (believes). Kepercayaan merupakan sikap menerima sesuatu yang menampakkan sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan.
4.    Hasrat (desire). Kodrat hasrat ini mencakup kondisi biologis serta psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat, kita dapat mengatakannya sebagai hasrat pikiran.
5.        Maksud (intends). Kendatipun memiliki maksud ketika akan mengobservasi, menyelidiki, memercayai dan berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak berbeda atau bahkan terdorong ketika melakukannya.
6.    Mengatur (organizes). Setiap pikiran adalah suatu organisme yang teratur dalam diri seseorang.
7. Menyesuaikan (adapts). Meneyesuaikan pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dan tubuh di dalam fisik,biologis, lingkungan sosial dan kurtural dan keuntungan yang terlihat pada tindakan, hasrat, dan kepuasan.
8.     Menikmati (enjoys). Pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, ia akan menikmati itu dalam pikirannya.

Jenis-jenis pengetahuan
Jenis pengetahuan menurut Soejono Sumargono (1983) dibagi atas pengetahuan non ilmiah dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan non ilmiah ialah pengetauan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang tidak termasuk dalam ketegori metode ilmiah. Dalam hal ini termasuk juga pengetahuan yang meskipun dalam babak terakhir direncanakan untuk diolah lebih lanjut menjadi pengetahuan ilmiah, yang biasanya disebut pengetahuan pra ilmiah. 
Secara umum yang dimaksud dengan pengetahuan non ilmiah adalah segenap hasil pemahaman manusia mengenai suatu objek tertentu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini yang cocok adalah hasil penglihatan dengan mata, hasil pendengaran dengan telinga, hasil pembauan hidung, hasil pengecapan lidah, dan hasil perabaan kulit. Di samping itu, seringkali di dalamnya juga termasuk hasil-hasil pemahaman yang merupakan campuran dari hasil penyerapan secara inderawi dengan hasil pemikiran secara akali. Juga yang termasuk dalam kategori pengetahuan non ilmiah ialah segenap hasil pemahaman manusia yang berupa tangkapan-tangkapan terhadap hal-halyang biasanya disebut gaib, yang biasanya diperoleh dengan menggunakan intuisi.
Pengetahuan ilmiah adalah segenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang sudah lebih sempurna karena telah mempunyai dan memenuhi syarat-syarat tertentu dengan metode ilmiah. Pengetahuan ilmiah lazim disebut sebagai ilmu pengetahuan.
Jenis pengetahuan menurut Plato dan Aristoteles dibagi menurut tingkatan-tingkatan pengetahuan sesuai dengan karakteristik objeknya, yakni: (1) pengetahuan eikasia (khayalan) ialah pengetahuan yang objeknya berupa bayangan atau gambaran dan isinya adalah hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan; (2) pengetahuan pistis (substansial), ialah pengetahuan mengenai hal-hal yang tampai dalam dunia kenyataan atau hal-hal yang dapat diinderai secara langsung, isi pengetahuan ini mendekati suatu keyakinan (kepastian yang bersifat sangat peibadi, atau kepastian subjektif); (3) pengetahuan dianoya (matematik), ialah pengetahuan yang di dalamnya sesuatu yang tidak hanya terletak pada fakta atau objek yang tampak, tetapi juga terletak dari bagaimana cara berpikitnya; (4) pengetahuan noesis (filsafat), yakni pengetahuan yang objeknya adalah prinsip-prinsip utama yang menvakup epistemologik dan metafisik, yang tujuannya untuk mencapai prinsip-prinsip utama yang hal-hal yang berupa kebaikan, kebenaran dan keadilan.

2. Epistemologi Pengetahuan

Terjadinya pengetahuan
Jawaban yang paling sederhana tentang terjadinya pengetahuan dijelaskan secara a priori atau a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indera maupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Dengan demikian, pengetahuan ini bertumpu pada kenyataan objektif.
Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam hal: pengalaman indera, nalar, otoritas, intuisi, wahyu, dan keyakinan.
1. Pengalaman indera (sense experience). Memang, dalam hidup manusia tampaknya penginderaan adalah satu-satunya alat untuk menyerap segala sesuatu objek yang ada di luar diri manusia. Karena terlalu menekankan pada kenyataan, paham demikian dalam filsafat disebut ‘realisme’. Realisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa semua yang dapat diketahui adalah hanya kenyataan. Jadi, pengetahuan berawal mula dari kenyataan yang dapat diinderai. Tokoh pemula dari pandangan ini adalah Aristoteles, yang berpendapat bahwa pengetahuan terjadi bila subjek diubah di bawah pengaruh objek, artinya, bentuk-bentuk dari dunia luar meninggalkan bekas-bekas dalam kehidupan batin. Objek masuk dalam diri subjek melalui persepsi indera (sensasi). Thomas Aquinos menegaskan bahwa tiada sesuatu dapat masuk lewat ke dalam akal yang tidak ditangkap oleh indera. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengalaman indera merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap objek dari luar diri manusia melalui kekuatan indera. Kekhilafan akan terjadi apabila ada ketidaknormalan di antara alat-alat itu.
2.       Nalar (reason). Nalar adalah salah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahua baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah tentang asas-asas pemikiran berikut: (1) principium, maksudnya identitas adalah sesuatu itu mesti sama dengan sirinya sendiri (A = A), asas ini biasa juga disebut asas kesamaan; (2) principium contradistionis, maksudnya bila terdapat dua pendapat yang bertentangan, tidak mungkin kedua-duanya benar dalam waktu yang bersamaan atau dengan kata lain pada subjek yang sama tidak mungkin terdapat dua predikat yang bertentangan pada satu waktu, asas ini biasa disebut sebagai asas pertentangan; (3) princium tertii exclusi, yaitu pada dua pendapat yang berlawanan tidak mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah. Kebenaran hanya terdapat satu di antara kedua itu, tidak perlu ada pendapat yang ke tiga, asas ini biasa disebut sebagai asas tidak adanya kemungkinan ke tiga.
3.  Otoritas (authority). Otoritas adalah kekuasaan yang sahyangdimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompokna. Otoritas menjadi salah satu sumber pengetahuan, karena kelompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang mempunyai kewibawaan dalam pengetahuannya. Pengetahuan yang diperoleh melalui otoritas ini biasanya tanpa diuji lagi karena orang yang telah menyampaikannya mempunyai kewibawaan tertentu. Jadi, pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah pengetahuan yang terjadi melalui wibawa seseorang sehingga orang lain mempunyai pengetahuan.
4.      Intuisi (intuition). Intuisi adalah kemampuan yang ada pada siri manusia yang berupa proses kejiwaan dengan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu untuk membuat pernyataan yang berupa pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi tidak dapat dibuktikan seketika atau melalui kenyataan karena pengetahuan ini muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu. Dengan demikian sesungguhnya peran intuisi sebagai sumber pengetahuan karena intuisi merupakan suatu kemampuan yang ada dalam diri manusia yang mampu melahirkan pernyataan-pernyataan yang berupa pengetahuan
5.      Wahyu (revelation). Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada nabi Nya untuk kepentingan umatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.
6.  Keyakinan (faith). Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada padadiri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas, karena keduanya menetapkan bahwa alat lain yang dipergunakannya adalah kepercayaan. Perbedaannya barangkali jika keyakinan terhadap wahyu yang secara dogmatik diikutinya adalah peraturan yang berupa agama. Adapun keyakinan melalui kemapuan kejiwaan manusia yang merupakan pematangan (maturation) dari kepercayaan. Karena kepercayaan itu bersifat dinamis mampu menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi. Adapun keyakinan itu sangat statis, kecuai ada bukti-bukti baru yang akuran dan cocok untuk kepercayaannya.

Cara memperoleh/menyusun pengetahuan yang benar
1.        Rasio (rasionalis)
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Masalah utama yang timbul dari cara pberpikir ini adalah mengenai kriteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya.
2.        Pengalaman (empiris)
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak, namun lewat pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkrit yang dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera. Masalah utama yang timbul adalah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan cenderung untuk menjadi kumpulan fakta-fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif.
3.        Intuisi dan wahyu
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia

3. Aksiologi Pengetahuan

Pengertian Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata bahasa Yunani yaitu  axios yang berarti nilai atau sesuatu yang berharga dan logos yang berarti teori. Jadi, aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Sedangkan arti sosiologi yang terdapat di dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

Dasar-Dasar Aksiologi Ilmu Pengetahuan
Seorang ilmuwan harus bebas dalam menentukan topiknya penelitiannya, bebas dalam melakukan eksperimen-eksperimen. Kebebasan inilah yang akan dapat mengukur kualitas kemampuannya. Ketika seorang ilmuwan bekerja dia hanya tertuju pada proses kerja ilmiahnya dan tujuan agar penelitian berhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat dengan nilai subyektif, seperti nilai-nilai dalam masyarakat, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya. Bagi seorang ilmuwan kegiatan ilmiahnya dengan kebenaran ilmiahnya adalah sangat penting.

Ilmu Sebagai Asas Berpikir
Pengetahuan (knowledge) adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir adalah sebagai differentia yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.
Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia, sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideology.


Note: Postingan ini dibuat atas kebaikian Sobat Aisyah Ummu Labiiq
Prodi Pendidikan Sains - Program Pasca Sarjana UNY

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes